Trading dan Investasi

ad1

Zona Dewasa

Beli Saham Naik Yang Mana?

Beli Saham Naik Yang Mana?

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

I am inclined to favor doing one's major forecasting from the tape or, to put in another way, from the price movement. This to me is elemental and necessary to success. Thus, once convinced the market is headed up, I should tend to follow the strongest of the active issues—those reacting the least in weakness and rallying the most in strength.

 


Saya cenderung mengutamakan prediksi pasar dari pergerakan harga (saham). Untuk saya, ini adalah hal yang mendasar dan diperlukan untuk sukses. Karena itu, begitu saya yakin pasar akan naik, saya akan mengikuti saham terkuat dari saham-saham yang aktif—yaitu yang turun paling sedikit saat koreksi dan naik paling banyak saat rally.


---###$$$###---

 

Di pos "Beli Saham Apa?" saya menganjurkan anda untuk membeli saham yang naik/uptrend.

Masalahnya, saat market atau sektor sedang uptrend, banyak saham yang naik. Dari sekian banyak yang naik, saham mana yang sebaiknya dibeli? Rasa-rasanya sih kurang bijaksana kalau SEMUA saham naik tersebut anda beli.

Nah, Gerald M. Loeb menganjurkan agar anda membeli saham yang paling kuat: yang naiknya paling banyak saat market rally dan turunnya paling sedikit saat koreksi.

Jadi, semisalkan saham-saham batu-bara sedang naik, anda sebaiknya memilih membeli emiten batu-bara yang (persentase) naiknya paling tinggi saat rally dan (persentase) turunnya paling sedikit saat koreksi.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 


Cara Agar Grafik Bisa Membantu Anda di Bursa Saham

Cara Agar Grafik Bisa Membantu Anda di Bursa Saham

Topoin.com - Bagaimana chart/grafik saham bisa membantu anda di bursa saham?

Figure 1. Cover Depan Buku William L. Jiler How Charts Can Help You in the Stock Market


William Jiller di buku How Charts Can Help You in the Stock Market menyatakan bahwa grafik saham tidak menjamin anda akan selalu untung, tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan grafik saham:

1. They can help determine when to buy dan when to sell, by indicating probable levels of support and resistance, and by signalling trend reversals....

Grafik saham bisa membantu menentukan kapan membeli dan kapan menjual, dengan mengindikasikan titik support dan resistance dan dengan memberi sinyal pembalikan trend....

2. They can call attention—by unusual volume or price behavior—to something happening in an individual company that can be most rewarding....

Grafik saham bisa memberitahu—dari volume yang tidak biasa atau dari perilaku harga—sesuatu sedang terjadi pada suatu perusahaan....


3. They can help determine the current trend—up, down or sideways—and whether the trend is slowing down or speeding up....

Grafik saham bisa membantu mencari tahu trend sekarang ini—naik, turun, atau sideways—dan mencari tahu apakah trend sudah melambat atau sedang melaju...


4. They provide a life history of a stock at a glance, and demonstrate whether one is buying on a rally or on a reaction, and whether the price is historically high or low....

Grafik saham dalam sekilas memberikan sejarah kehidupan suatu saham, dan memperlihatkan apakah seseorang membeli ketika saham sedang naik atau sedang turun, dan apakah harga saat itu tinggi atau rendah secara historikal...


5. They offer a means for confirming (or rejecting) a decision to buy that is based on economic data or other factors, including stock tips and hunches....

Sebelum membeli saham berdasarkan data ekonomi atau faktor lain, seperti tips dan "feeling," grafik saham memberi cara untuk mengkonfirmasi (atau menolak) apakah saham tersebut layak dibeli.


Kalau selama ini anda belum pernah memakai grafik saham dalam bermain saham, pertimbangkan untuk mulai memberdayakan grafik/chart saham.



Trading Saham Tidak Pernah Rugi, Mungkinkah?

Trading Saham Tidak Pernah Rugi, Mungkinkah?

Topbisnisonline.com - Di pos "Main Saham Cepat Kaya?", seorang pembaca, Septian Benny, bertanya:

"Mas, menurut anda apakah tidak ada investor yang tidak pernah rugi dalam bermain saham? Saya adalah pemula, apakah dengan membeli saham BUMN menjadikan saya aman dari kerugian?"


Saya rasa kekhawatiran Bung Septian Benny adalah kekhawatiran mayoritas pemula yang berniat mulai main saham. Mereka ingin main saham tapi takut rugi.

Kekhawatiran ini sangat masuk akal. Semua orang terjun main/investasi/trading saham karena pengen untung. Bukan rugi.

Jadi, mungkinkah main saham tapi tidak pernah rugi?

Figure 1. Dixit Card 03 from Dixit Revelations Board Game

Jawaban saya:

Menurut saya, TIDAK ADA investor/pemain saham yang tidak pernah rugi dalam bermain saham.

TIDAK ADA.

Tapi ini tergantung definisi anda apa yang dimaksud "rugi."

Banyak orang yang sahamnya turun menganggap belum rugi karena belum menjual.

Nah, hanya karena anda belum menjual tidak berarti anda belum rugi.

Memang, anda bisa "hold" saham tersebut dan berharap saham naik ke atas harga beli anda. Tapi kenyataan pada saat itu tidak bisa dipungkiri: saham turun dan anda rugi (kalau harus jual saat itu). Lagipula, tidak ada jaminan bahwa harga saham akan naik lagi. Bagaimana kalau kebalikannya yang terjadi: saham turun terus?

Merasa belum rugi karena belum menjual saham adalah salah satu cara pemain saham membohongi diri sendiri bahwa ia belum rugi.

Lalu, bagaimana sebaiknya?

Kalau saya sih selalu memakai harga terakhir untuk mengukur apakah posisi saya untung/rugi. Artinya, kalau harga saham turun dari harga beli, saya anggap sudah rugi. Tidak peduli apakah saham tersebut sudah saya jual atau belum.

Menjawab pertanyaan anda tentang "apakah dengan membeli saham BUMN menjadikan saya aman dari kerugian?": Membeli saham BUMN juga tidak menghindarkan anda dari kemungkinan rugi. Membeli saham apapun berpotensi rugi, tidak terkecuali saham BUMN, saham blue-chip, saham perusahaan ternama.

Yang harus dicamkan: Untung main saham artinya anda mendapat untung lebih banyak daripada rugi. Tidak berarti anda tidak pernah rugi.


---###$$$###---


Kesimpulan:

Secara faktual, (hampir) TIDAK MUNGKIN anda tidak pernah rugi saat bermain saham.

Secara psikologis, BISA SAJA anda tidak pernah rugi saat bermain saham (kalau anda menganggap saham turun belum dijual berarti belum rugi).


---###$$$###---


Informasi tambahan: sudah cukup lama saya SELALU RUGI saat main saham. Tapi nilai portofolio investasi/main saham saya naik.

Kok bisa?

Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Cepat?

Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Cepat?

Aopok.com - Investasi saham jangka panjang. Atau trading saham jangka pendek?

Gerald Loeb membahas juga topik ini di buku The Battle for the Investment Survival.



. . . are we learning to trade for the quick turn or to invest for the long pull?

. . . apakah kita belajar trading saham cepat atau investasi untuk jangka panjang?


Ini yang ditulis Gerald Loeb:


1. We are investing for appreciation, and the length of time one holds a position has nothing to do with it.

Kita berinvestasi untuk mendapat untung, dan hal ini tidak ada hubungannya dengan jangka waktu seseorang memegang saham.

Dengan kata lain, Gerald Loeb menyatakan bahwa tidak masalah trading saham jangka pendek ataupun investasi saham jangka panjang. Yang penting untung.



2. I lean towards rather short turns for many reasons. . . To begin with, experience is gained much more rapidly that way.

Saya (Gerald Loeb) cenderung memilih trading jangka pendek karena banyak alasan. . . Alasan pertama, pengalaman akan lebih cepat didapat dari trading jangka pendek.

Kok bisa?

Dengan trading saham jangka pendek, misalkan bingkai waktu 1 minggu, seseorang akan membeli dan menjual saham sebanyak 52 kali dalam setahun (dengan asumsi 1 tahun = 52 minggu).

Dengan investasi saham jangka panjang, misalkan bingkai waktu 1 tahun, seseorang akan membeli dan menjual saham sebanyak 1 kali dalam setahun.

Melakukan jual-beli saham 52 kali memberikan 52 pengalaman. Melakukan jual-beli saham 1 kali memberikan hanya 1 pengalaman.



3. Short-term investing once mastered has very much more the elements of dependable business than the windfalls or calamities of the long pull. One simply can't continue to buy and sell successfully without being "good."

Investasi saham jangka pendek, setelah anda tahu caranya, akan memberikan penghasilan yang lebih konsisten daripada investasi jangka panjang yang kadang untung kadang buntung. Seseorang tidak bisa konsisten untung jual-beli saham kalau ia tidak "jago."
 


4. There is a much more peace of mind in frequent turns . . . Long worrying declines, without apparent reason until the near bottom, are avoided.

Pikiran akan lebih tenang dengan trading cepat . . . karena kita terhindar dari saham yang turun terus-menerus dalam periode yang lama.



5. One can take a fresh view often.

Dengan trading saham cepat, seseorang bisa selalu melihat dari perspektif baru.




Pastikan Risk-Reward Ratio Sebelum Membeli Saham

Pastikan Risk-Reward Ratio Sebelum Membeli Saham

Kata Gerald M. Loeb:

In considering a commitment a clear idea should be had of the levels at which one expects to close it out either at a profit or at a loss. Obviously, if one anticipates making only a very small amount, one's chances of being successful are rather small.

Saat anda mempertimbangkan untuk membeli saham, anda harus tahu jelas di harga berapa anda akan menjual untung/rugi saham tersebut. Kalau anda mengharapkan untung kecil, kecil kemungkinan anda untuk sukses.


Menurut saya yang dimaksud Gerald Loeb adalah sebagai berikut:

Misalkan anda berniat membeli saham EXCL seharga Rp 1.000.

Nah, sebelum membeli saham tersebut anda wajib menentukan harga jual kalau rugi (cut-loss) dan harga jual kalau untung.

Katakanlah anda hanya bersedia rugi Rp 50. Artinya, anda akan cut-loss EXCL kalau turun ke harga 950. Katakanlah juga anda berharap EXCL bisa naik ke harga 1.200 dan anda akan jual di harga tersebut.

Jadi dengan kata lain, anda bersedia untuk ambil resiko rugi 5% untuk mencoba meraih kemungkinan untung 20%.

Nah, yang ditekankan Gerald Loeb adalah anda berharap bisa untung 20%.

Bukan 1%. Bukan  2%. Bukan 5%.

Intinya, anda harus berusaha mencari POTENSI UNTUNG yang (relatif) besar dibandingkan resiko yang siap anda tanggung.

Harus saya ingatkan bahwa yang namanya "potensi untung" itu belum tentu jadi kenyataan.

Tapi kalau anda selalu membeli saham dengan potensi untung lebih kecil dari resiko, kecil kemungkinan anda akan meraih untung bermain saham.


Investasi 20 Jenis Saham atau 2 Saja?

Investasi 20 Jenis Saham atau 2 Saja?

 Piool.com - Pilih mana:

1. Beli 20 jenis saham masing-masing senilai Rp 1 juta. Total Rp 20 juta.

2. Beli 2 jenis saham masing-masing senilai Rp 10 juta. Total Rp 20 juta.

Silahkan anda pikirkan dahulu.

Sudah?

 


Menurut Gerald Loeb:

. . . large commitments, meaning thereby a few relatively large blocks of shares, are preferable to a great many small positions.

. . . beberapa jenis saham dengan nilai relatif besar adalah lebih baik daripada banyak jenis saham dengan nilai kecil.

 

 Mengapa lebih baik beberapa saham dengan nilai besar?

Confining oneself to situations convincing enough to be entered on a relatively large scale is a great help to safety and profit. One must know far more about it to enter the position in the first place, and one will retreat from a mistake much quicker if failure to retreat means an important loss.

Membatasi diri pada situasi yang meyakinkan untuk masuk dalam nilai besar sangat membantu untuk meraih untung dan mencegah rugi besar. Seseorang akan mencari tahu banyak sebelum membeli saham tersebut dan akan mundur cepat dari kesalahan apabila tidak mundur berarti rugi besar. 

 

Mengapa menghindari banyak jenis saham dengan nilai kecil?

A large number of small holdings will be purchased with less care and ordinarily allowed to run into a variety of small losses without full realization of the eventual total sum lost. Thus overdiversification acts as a poor protection against lack of knowledge.

Banyak jenis saham dalam nilai kecil biasanya dibeli dengan kepedulian rendah dan biasanya dibiarkan rugi tanpa menyadari rugi kecil di sana-sini kalau dijumlah bisa-bisa jadi rugi besar. Jadi, diversifikasi yang berlebihan adalah tameng bahwa anda tidak tahu apa yang anda lakukan.

 

---###$$$###---


Saya mau mengaku.

Saya selalu berusaha untuk melaksanakan petuah Gerald Loeb di atas. Tapi cukup sering saya melanggarnya.

Apalagi saat market sedang bullish dan banyak saham yang naik (saya senangnya membeli saham yang naik).

Saham INII naik. Saya beli.

Saham ITUU naik. Beli juga.

Saham GOYA naik. Beli.

Saham SANA naik. Gak dibeli gak tahan. Beli dikit aja.

Saham SINI naik juga. Kok menarik ya. Beli lah.

Tidak terasa, eeh sudah punya 15 saham di portofolio. Kecil-kecil nilainya. Tapi efek pusingnya sama dengan saham yang bernilai besar.

Dan faktanya: kalau jenis saham terlalu banyak di portofolio, biasanya saya rugi.

Saya harap anda lebih baik daripada saya dalam melaksanakan nasehat Gerald Loeb di atas.



Mau Sukses Investasi Saham? Terkadang Anda Harus Beruntung

Mau Sukses Investasi Saham? Terkadang Anda Harus Beruntung

Topoin.com - It took 29 years, that included 10 weeks on the road this season because of the coronavirus, for VanDerveer and the Cardinal to be crowned NCAA women’s basketball champions again.

“We had some special karma going for us,” VanDerveer said. “Had the comeback against Louisville, dodge a bullet against South Carolina, dodge bullet against Arizona. Sometimes you have to be lucky. I’ll admit it, we were very fortunate to win.”

Perlu waktu 29 tahun, termasuk 10 minggu perjalanan darat di musim (pertandingan) ini karena virus corona, sebelum VanDerveer dan (tim) Cardinal mendapatkan mahkota juara bola basket wanita NCAA lagi.

"Kami mendapat karma baik belakangan ini," kata VanDerveer. "Menang setelah tertinggal melawan Louisville, menghindari peluru melawan South Carolina, menghindari peluru lagi melawan Arizona. Terkadang anda harus beruntung. Saya akui, kami sangat beruntung bisa menang." 

 

---- Tara VanDerveer - Head Coach Stanford Women Basketball, 68 years old, after winning 2021 NCAA Women Basketball National Championship.

 

  

 

Saat masih hijau, 40-50 tahun lalu, saya yakin 100% bahwa kalau seseorang belajar keras, bekerja keras, berusaha keras tanpa putus-asa, suatu hari ia pasti akan sukses, pasti akan menjadi nomor 1, pasti kaya, pasti menggapai apa yang ia inginkan.

Dengan berjalannya waktu, bertambahnya umur dan rambut putih, saya (akhirnya) menyadari bahwa belajar keras, bekerja keras, berusaha keras, tidak menjamin seseorang pasti sukses, pasti kaya, pasti mendapatkan apa yang ia inginkan.

Memang, dengan bekerja keras saya yakin seseorang akan bisa hidup (relatif) nyaman dan (yang pasti) tidak kelaparan.

Tapi kalau seseorang ingin sukses luar biasa, ingin menjadi nomor 1 (menjadi presiden, misalnya), ingin kaya raya, ingin mendapatkan apa yang ia inginkan, kerja keras saja tidak cukup. Pada akhirnya nasib dan keberuntungan yang menentukan.

Terkadang anda harus beruntung, kata VanDerveer.

"Tapi Mas Iyan," sergah anda. "Masa sih kita harus mengandalkan nasib saja agar bisa sukses main saham?"

Jangan salah mengerti.

Saya tidak bilang bahwa seseorang tidak perlu belajar keras, tidak perlu bekerja keras, tidak perlu berusaha semaksimum mungkin, cukup mengandalkan nasib dan bisa sukses main saham.

Untuk sukses main saham, anda HARUS bekerja keras dan berusaha keras. Itu tidak bisa ditawar.

Tapi yang sangat penting anda sadari adalah ini: tingkat kesuksesan yang anda dapatkan—setelah anda bekerja dan berusaha sekeras mungkin— tergantung pada keberuntungan anda.

Warren Buffet, investor saham legendaris dari Amerika Serikat, pun mengakui bahwa ia bisa menjadi salah satu investor paling kaya di dunia karena dirinya beruntung.

Masih tidak percaya?

Saya juga pernah membaca artikel tentang simulasi komputer yang dilakukan Alesandro Pluchino dan kawan-kawan di Universitas Catania di Italia yang mencoba mencari tahu apa yang berperan paling penting dalam menggapai sukses: apakah bakat (talent), kepandaian (intelligence), atau keberuntungan (luck)?

Dari simulasi tersebut Alesandro Pluchino berkesimpulan bahwa orang yang paling sukses adalah orang yang paling beruntung. Bukan yang paling berbakat. Bukan yang paling pintar.

“The maximum success never coincides with the maximum talent, and vice-versa,” kata periset-periset tersebut.

Kesuksesan paling maksimal tidak berhubungan lurus dengan bakat/kepandaian paling maksimal; kesuksesan paling minim juga tidak berhubungan lurus dengan bakat/kepandaian paling minim.

Terkadang anda harus beruntung.

 

---###$$$###---

 

Nah, apa hubungan "terkadang anda harus beruntung" dengan main saham?

Banyak sekali hubungannya. Saya berikan 1 contoh ya.

Misalkan anda dan teman anda (katakanlah namanya Ahok) bekerja keras menganalisa saham yang layak dibeli. Dari analisa tersebut anda dan Ahok berkesimpulan bahwa saham A, B, C, D, E, F, G, H, I, J paling berpotensi memberi keuntungan maksimum kalau anda beli dan pegang selama 1 tahun. Karena potensi saham-saham tersebut kelihatannya sama saja, anda memutuskan membeli Saham A-E; Ahok memutuskan membeli saham F-J.

Setelah berlalu 1 tahun, portofolio anda naik 18%. Cukup baik, kan?

Tapi masalahnya, portofolio Ahok naik 88%.

Kok bisa?

Padahal ketika anda dan Ahok menganalisa, potensi saham-saham tersebut kelihatannya tidak berbeda jauh.

Kok bisa?

Saya tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu adalah "terkadang anda harus beruntung."

Yang saya tahu juga dari contoh di atas: si Ahok jauh lebih beruntung dari anda.

 


ad2

Iklan Gratis

Peluang Bisnis

Berita Terkini

Chord dan Lirik

Tempo Doeloe

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan